Bully

Baca berita anak SD meninggal karena dipukul teman sekolahnya.. ada juga yang bilang dia dibully.  Banyak komentar yang menyalahkan sinetron di tv yang kurang mendidik dan jadi contoh yang tidak baik bahkan film kartun juga disebut salah satu penyebabnya. 

Sinetro sudah ada sejak lama.. bahkan saat aku masih SD pada tahun 90an itu ada sinetron tersanjung yang penomenal. Kartun tom and jerry juga sudah ada. Jadi aku kurang setuju kalau ini adalah efek dari tontonan anak di rumah khusunya tv, tapi aku setuju kalau ini efek dari tontonan anak di rumah yang di tonton adalah keluarganya. Ya.. suasana di rumah. 

Saat masih SD aku adalah korban bully bahkan saat pertama masuk sekolah.  Lucunya dulu aku bukan tipikal anak yang terima saat di olok-olok, dihina, dikerjain.. aku akan membalas mereka. Tapi sayangnya dulu kalah jumlah. Dan sering kali berakhir dengan tangisan. Kalau di ingat mereka tidak akan berhenti sampai aku menangis. Pernah pura-pura nangis tapi ketahuan haha.

Pada saat itu aku sudah berusaha melawan mereka bahkan sampai adu otot alias berantem. Sayangnya aku kalah haha. Yang aku ingat dulu guru juga kurang peduli. Banyak guru yang mengetahui perihal bully ini tapi mereka cuma mengangap hal biasa “namanya anak-anak”. Ini aku sangat kecewa. Harusnya guru memberikan sanksi dan juga menasehati bahwa mem-bully itu bukan perbuatan yang baik. 

Bagaimana dengan orang tua?. Aku sering kali mengadukan perihal ini dan reaksi orang tua cuma bilang ” jangan dihiraukan mereka itu, tidak usah di dengarkan ocehan mereka”. 

Pernah dimana orang tua ikut turun tangan dan hasilnya makin parah malah jadi ribut.  Bapak bilang “urusan anak-anak baiknya orang tua nga usah ikut-ikutan, namanya anak-anak berantem itu biasa”.  

Kalau di ingat lagi kenapa aku dulu di bully salah satunya karena keluarga kami miskin dan suara cempreng ini. Sangking parahnya sampai masuk dalam doa “ya Tuhan buat suara ku jadi sperti yang lainya”. Heranya saat semua orang mengalami perubahan suara saat mulai remaja tapi aku tetap begini.

Bullu ini beneran jadi trauma masa kecil dan efeknya jadi alasan kenapa aku malas untuk pulang ke kampung. 

Yang aku benci bukan mereka tapi orang tua mereka yang aku angap kurang dalam mendidik akhlak anak. Apa lagi ketika kejadian dimana dia  tau anaknya salah yang dibela malah anaknya dan aku malah di tampar.  Pun begitu namanya orang tua pasti bela anaknya tapi nga perlu sampai memukul anak orang lain juga kan.

Perubahan..

Dari kelas 1-4 SD  aku murid yang tidak peduli dengan nilai, untung masih naik kelas.  Dan hari pertama masuk sekolah setelah kenaikan kelas 5 jadi moment buat milih tempat duduk, karena aku datang lebih siang dari yang lainya jadi aku nga kebagian tempat duduk yang strategis. Biasanya aku memilih meja nomer tiga dari depan. 

Celingak-celinguk bengong. Dan mata ku fokus ke satu meja yang cuma ada satu murid dan wajahnya asing. Ya sekolah kami satu meja itu untuk dua murid bahkan ada yang tiga.  Ternyata itu murid yang tidak naik kelas. Ini jadi awal perubahan besar.  

Aku mendapatkan rangking 5 yang membuat semua orang tercengang. Dari sini munculah pengakuan. Ternyata anak yang dianggap  pintar yaitu anak-anak dalam 10 besar rangking kelas, cukup disegani. Setidaknya 2 tahun terakhir di SD yang nge bully berkurang drastis. 

Masuk SMP, Awal-awal suka ada yang ngebully tapi setelah naik kelas dan rangking lagi semua diam, terlebih lagi masuk kategori murid kesayangan guru.. nga ada yang berani ngegangu lagi haha. 

SMA aman.. bahkan dua periode aku terpilih sebagai ketua  salah satu organisasi sekolah. 

Jadi aku mau bilang nga usah sibuk nyari keadilan..  karena yang peduli itu sedikit. bungkam mereka dengan prestasi. 

Kalau di ingat lagi walaupun dulu sering dibully tapi tetap punya banyak teman  dan ada beberapa yang jadi sahabat sampai sekarang. 

Buat aku si tetap yang salah keluarga di rumah alias orang tua. Guru juga harusnya lebih peduli.

“Apa untungnya ngehina saya?, apa saya ngerugiin kamu? Saya nga minta makan sama keluarga kamu”. Haha  itu kata-kata yang sering terlontar ketika dibully tentu dibarengin nangis. 

Semoga kalian diberi kekuatan buat ngelewati masa itu.. i’m with you. 

Iklan