Dangau

image

Liat tulisan revanlee ada foto gubuknya jadi ingat masa kecil dulu. Foto di atas dari pinterest.  Nostalgia.
Saya lupa sudah pernah tulis cerita ini atau belum.  Tapi cerita ini jadi memori yang cantik buat saya. Bapak pernah bilang “sejelek apapun rumah kita tetap lebih enak dan lebih nyaman dari pada tinggal di rumah orang  walaupun megah”.  Terbukti waktu saya masuk SMA.

Gubuk atau pondok, tapi kami menyebutnya Dangau  rumah yang diding dan lantainya dari susunan papan dan terletak di kebun. Iya di kebun disebut dangau karena rumah di desa juga masih dari lempengan papan. Simpelnya Dangau sebutan untuk tempat bermalam di kebun.

Ukuranya sekitar 6×3.5 m2 tangga dari kayu bulat, teras, ruang tengah multu fungsi buat tempat menghidangkan makan, dan bisa beralih fungsi  jadi tempat tidur, paling belakang ada dapur.  Pas untuk kami ber 5.  Itu dulu waktu kelas 3 sd karena terakhir kali tidur siang di dangau rasanya jadi sempit :D.

Di belakang dangau ada sungai kecil, di samping ada dua kandang sapi  dan posisinya tepan di bawah pohon gandaria, kemang dan pohon limous.     Ada pohon mangga, nangka biasa dan nagka bubur, pohon cempedak, ada pohon duren yang ngak pernah buah.   Dari aliran sungai yang kami sebut sireng aka selokan   ditaruh kayu tempat mandi, di pangkal sireng juga ada atau kalau mau lebih luas bisa mandi di  kolam ikan yang tidak jadi kolam ikan.  Kalau pagi airnya dingin sekali tapi kalau kemarau ya kering dan kita mandinya di sumur :D. 

Ngomongin kemarau jadi ingat kabut asap di sumatera. Alhamdulillah di kampung  tidak begitu parah, yang parah ada di kabupaten oki dan kampung masuk kabupaten oku.  Kalau musim kemarau itu berarti waktunya musim gugur pohon karet. Karena mata pencarian masyarakat sumatra sebagian besar petani karet   ini berarti daun kering dimana-mana dan daun karet kering itu garing   yang mana puntung rokok bisa jadi sumber pemicu kebakaran.

Tapi yang sering terjadi adalah pembakaran hutan yang sengaja dilakukan untuk pembuatan lahan kebun karet.  Pembakaran untuk lahan baru bisa dilakukan walaupun tidak pada musim kemarau dan pembakaran lahan biasanya diawasi. Asapnya juga berlangsung sebentar karena yang dilahap api adalah kayu kering.

Peroses pembukaan lahan kebun ini diawasi karena dikhawatirkan api akan merembet kelahan perkebunan orang lain. Sebelum melakukan pembakaran lokasi di sepingiran lahan dibersihkan sekitar 3 meter dan disetiap sisi dijaga oleh beberapa orang dengan tabung air. Saya pernah mengikuti proses pembakaran lahan.  Sekarang pembakaran lagan sudah dilarang di kampung ketika ada yang akan membuka lahan makan membakarya sedikit demi sedikit.

Beda lagi dengan yang sering muncul di tv itu lahan gambut. Kalau ada yang belum tau lahan gambut ini merupakan lahan yang dimana yang kita pijak bukan langsung tanah tapi serat dari kumpulan akar yang mengupal dan  menebal. Ketebalanya bisa bermeter-meter  Bahkan lahan ini bisa berupa danau atau sungai ketika musim hujan. Saya pernah melintasi danau dengan gambut yang tebal jadi seperti berjalan di atas air.  Ini menjadi alasan mengapa kemarau panjang adalah waktu yang tepat untuk menyingkirkan gambut ini. Karena lapisanya yang tebal maka sering tidak disadari bahwa api masih menyala dibagian bawah. Akhirnya merembet kelahan lainya.

Iklan