Rumah

Kalau ditanya rumah mu di mana? Biasanya aku jawab detail. Sebutin alamat  Kost,  infoin juga kalau lama di lampung dan aslinya dari oku sumsel. kalau alamat  KTP sekarang si metro lampung. kalau temen-temen tanya lagi dimana?. Aku biasanya jawab di rumah. Padahal rumah keluarga  juga bukan, cuma numpang.


Sering aku bilangnya toko bukan rumah. Biar nggak rancu. Ini rumah abang aka kak mail yang satu kampung dengan ku di oku sumsel sana. Guru ngaji  waktu kecil dulu. Beda umur kita 3 tahunan. Awalnya aku tidak tau kalau ternyata dia juga ada di metro malah satu kampu dengan ku, Jadi adik tingkat malah. Sudah lama tidak nampak dia di kampung dan saat bertemu dari kejauhan pun aku tau itu dia. Nampak tidak banyak yang berubah. Wajahnya lekat padang tulen dan ketambahan palembang jadilah dia terkenal garang.

Waktu itu dia sedang berencana akan menikah jadilah aku teman serumahnya. Apa yang aku mau tinggal bilang. Katanya biar tahu angaran hidup berdua, jika sudah sanggup maka dia akan memutuskan menikah. Di sini mulanya aku jadi bawahan dia. Jaga toko obat. Tentu dulu masih kecil jauh berbeda dengan sekarang ini.

Setelah si abang menikahi mba  aku balik lagi ngekost, tapi jika mereka berpergian ke luar kota maka aku yang jaga toko, sendirian. Cukup merepotkan apa lagi setelah tokonya semakin lebar. Pada semester akhir, smester 7 sks ku sudah habis tinggal skripsi. Si abang datang ke kostan negosiasi dengan perjanjian bantu dia mengelolah toko dan maka aku bebas makan tidur di rumah dia plus mendapatkan uang jajan. Banyak cerita yang terjadi di sini. Di toko. Moment di mana kita makan setelah tutup toko, berkeringat saat bongkar barang, tidur di ruang bersalin pindah kamar ke gudang  sampai komflik keluarga pun aku kena imbasnya. si nenek ibunya si abang bilang aku ini bukan orang lain lagi pun begitu mba bilang aku ini sudah seperti adiknya dan juga begitu dengan ibunya mba, anak lanang ku katanya. Tapi si abang selalu bilang mau kemana kamu nanti, itu yang selalu aku pikirkan setelah lulus.  Sindiran seperti kata mau sampai kapan kamu di sini?

Nenek maunya aku di sini dan mbak juga begitu. Tapi si abang cuma diam. Nenek megang tanganku “sama siapa saya nanti kalau kamu pergi” aku liat dia menangis. Aku cuma mau nunjukin ke si abang kalau ijasah ku bukan cuma sekedar kertas selebaran. ke jakarta aku pergi. Dan karyawan silih berganti. Nenek meninggal tapi keadaan sudah semakin baik. 7 bulan aku pergi banyak hal yang terjadi. Puji syukur hubungan si abang dengan mba rukun. Sekarang aku di sini lagi tapi bukan sebagai pekerjanya. Entah apa status aku di sini tempat yang sudah aku sebut rumah.
Kamarku sudah jadi kamar si abang dan sekarang aku gelar kasur di mana dulu ini kamar nenek, sekarang sudah jadi bagian dari toko.
kata mereka mau-maunya aku tinggal di sini. Seperti melihat pagar halaman atau seperti rumah yang nampak dari luar, dalamnya siapa yang tau?. Mungkin terdengar berlebihan tapi buat ku bisa makan dan tidur nyenyak dengan tambahan sedikit uang jajan Itu lebih dari cukup.

Katanya kita cenderung lebih mudah mengingat momenT bahagia seperti membayangkan aroma makanan dari pada mengingat moment saat sulit seperti aroma toilet. buat ku malah sebaliknya. bukan untuk diratapi atau mendendam sebagai reminder aja agar kaki masih berpijak di bumi.

Iklan