Satu kisah VI

When I’m looking into my own eye @myprofilpicture, sometimes I feel he’s trying to say… ‘don’t give up’

Aku tidak menyalahkan dan memang tidak bisa menyalahkan orang tua, tradisi ataupun ‘tahapan’ (yang seakan wajib) yang aku lalui. ini sudah menjadi web (jaring) dan setiap orang terikat oleh satu, dua bahkan banyak benang kusut, tidak bisa tidak. kita terikat sejak pertama kali kita menginjakan kaki di dunia pendidikan.
Hingga diusiaku ini, aku sadar bahwa tujuan pendidikan belasan tahun yang aku lalui di sekolah-sekolah formal hanyalah satu. menjebakku untuk terlibat dalam ‘permainan’ yang berlangsung. membenamkanku lebih dalam di jaring yang kusut. memaksaku untuk berbuat lebih, lagi dan lagi. seperti mengejar angin. membuatku (sebenarnya) lelah. apakah ini jalan yang memang seharusnya? atau apakah ada pilihan lain? saat aku terlibat dalam permainan dan sibuk untuk terus mempertahankannya, sedang waktu berjalan mudur, menuju titik awal dimana kehancuran dan ….. datang bersamaan. itu tak memberiku kesempatan untuk memikirkan kembali tentang apa yang sedang aku jalani.
Aku berhenti dititik ini. berhenti dan berdiri (memandangi kalian yang terus melaju dengan kecepatan penuh (keyakinan penuh) melesat jauh kedepan dijalur yang sama dimana aku berhenti dan berdiri)

“Aku cukup miris mengetahui bahwa selama ini aku, kalian, kita. hidup dalam jaring laba-laba yang sangat besar, mengikat, terbiasa terikat dan menjadi senang terikat. membuat kita lupa kemampuan dan keinginan untuk terbang”

apa yang mereka ajarkan di sekolah-sekolah formal? selama belasan tahun. sejak dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.
berhitung? untuk bisa menghitung-hitung uang akan keuntungan dan kerugian kita kelak saat kita mulai ‘bermain’?
sejarah? bahwa kita berasal dari nenek moyang pada zaman batu? dan sekarang kita menjadi peradaban modern yang jauh lebih maju, dan kita merasa hebat akan itu? Aku katakan padamu, kehidupan kita lebih primitif dan gelap dari para pendahulu kita.
apa lagi? ekonomi? politik? sosial?Β 
itu semua sebenarnya hanya mengajarkan satu hal pada kita -Bagaimana caranya menjadi budak yang paling berjasa.

seseorang bertanya padaku : “Akan sejauh mana kau lanjutkan langkahmu bila tujuanmu hanyalah bayangan, yang akan berpindah saat matahari bergeser, dan menghilang saat matahari terbenam?”

> kau mengerti sekarang sin?
* ini akan beratΒ 
> memang. tapi… itu adalah pilihanmu.
* … (tatapanku tertuju hanya pada satu titik kosong)
> aku harap kau memilih untuk berbalik dan menghadapi arus ini bukan ikut berlari bersamanya. karena sesungguhnya kau tahu arah mana yang harus dituju.
* walau kemungkinan besar aku akan kalah dan hanyut? (dahiku berkerut)
> walau kau kalah dan hanyut. (‘dia’ tersenyum)

Iklan