Enam

wpid-c360_2015-01-17-17-33-37-488.jpg

mencerna kata-kata dari mulut dia bukan hal yang mudah. belum lagi harus menurunkan ego membiarkan dia membuka semua lembaran masa lalu. rasanya cukup waktu itu dan tidak lagi untuk saat ini, walaupun sama buntunya. kalau sampai dia masuk ke dalam dan jadilah aku pionnya. dunia akan semakin rumit. atau ini hanya prasanka buruk?.

Masa depan tak lagi membentang, garis-gari mulai terputus. sebagian dari ku memaksa untuk mencoba lagi dan lagi, sebagian lagi merayu untuk menyerah. dan aku terkurung di sini. wahai para pemikir di luar sana, dulu apa yang kalian lakukan saat berada di waktu ini. wahai para pemikir.. berapa lama waktu ini?.

hati rasanya membeku dan otak  tak lagi di kepala. aaaarggg.. apa bisa aku lepas total? semua?. oh jantung ku.

“haha.. lu tu cuma nyiksa badan, omongkosong. niat? haha lu liat dia? apa dia bisa?  liat gue? apa gue berubah?. gue capek lari terjermbab lari dan semakin jauh ke dalam. omong kosong apa itu niat! sampah!! nggak usah bawa tuhan ke sini!”

“lu kalau memang mau lari, hapus semua. termasuk gue. google lu, no hp lu. dan jangan pernah injakan kaki lu lagi di sini”.

apaka kalian sudah berhasil mengepakan sayap dan meninggalkan sarang?. di mana kalian sekarang?, kalian bahagia?, apa cuma aku yang masih seperti ini?

umur yang selama ini aku tunggu ternyata ini rasanya.. oh tuhan. harus mulai dari mana. rasanya semua salah. bangka? kalimantan? atau batam?. oh kehidupan.. akan jadi seperti apa ini.

semakin dalam. terlalu indah, tak mampu menyakinkan diri. sebegitu menginginkan. mengikis iman. menengelamkan dalam mimpi yang panjang. terlambat pergi.

Iklan