Lima

4 5 6. loncat, meyebrang atau mundur. huh.. tuhan memang selalu punya kejutan. kadang dipikir sampai gila tidak ada jawabanya, kadang di abaikan malah jawaban itu yang datang sendiri. rasa seperti ini sudah sering kali datang. membuat aku semakin diam. kadang enggan beranjak, menatap ke belakang. ingin senyum tapi rasanya ini menyedihkan. pohon-pohon yang tumbang hangus terbakar, seakan berteriak melambai-lambai memohon agar aku mendekapnya. rumput, tunas dan biji padi yang mulai tumbuh seperti harapan baru. saat angin berhembus, berputa-putar menghadirkan rasa pilu. kadang yang tercium bau khas kayu terbakar kadang muncul wangi segar tanaman padi.

kurentangkan kedua tanganku membiarkan semua rasa menjadi satu. melepaskan semuanya. tak peduli aku tak mengerti. rasanya semua terjadi ya karena akan terjadi. kalau sudah begini biasanya kak roman akan duduk di tanah, menuggu sampai ritual ku selesai. sering kali dia pulang duluan, ya dia tau aku tau jalan pulang. sering kali aku berteriak ke tanah lapang itu. HALOO…. akan jadi HALOO.OO.OO. pohon-pohon yang menjulang tinggi seakan menari.

“de.. oi.. de!. ayo pulang, makin gelap ni”. memungut ranting, membuatnya jadi patahan kecil-kecil. berjalan di belakang kak roman. bosan, aku buang ranting. bernganti dengan memetiki pucuk rumput sepanjang jalan. bosan. aku akan berlari mendahului kak roman. sambil berteriak mengerakan bokong dan berbalik menjulurkan lidah. ini kan jadi turnamen dadakan. walapun jelas aku yang akan kalah tetap patut di coba. langkah ku yang panjang kalah dengan gerak kakinya yang cepat. cukup dia tertawa rasanya lebih menjengkelkan dari menjulurkan lidah.

Iklan